Menyambut Kedatangan Bhagavati Vajrayogini di Biara Sutra dan Tantra Indonesia

2025-08-09

Menyambut Kedatangan Bhagavati Vajrayogini di Biara Sutra dan Tantra Indonesia
Menyambut Kedatangan Bhagavati Vajrayogini di Biara Sutra dan Tantra Indonesia

Pada 6 Agustus lalu, Biara Indonesia Tuṣita Vivaraṇācaraṇa Vijayāśraya menyambut kedatangan arca atau pratimā dari Bhagavatī Vajrayoginī. Dalam tradisi Hindu-Buddha yang ada di Nusantara, upacara penyambutan sosok adiduniawi ini disebut sebagai ‘mendak’.

Kirab Penyambutan Pratima Bhagavati Vajrayogini

Kirab Penyambutan Pratimā Bhagavatī Vajrayoginī

Bhagavatī Vajrayoginī merupakan Iṣṭadevatā kelas Tantra Tertinggi (Anuttarayoga Tantra) yang sangat masyhur di kalangan praktisi Tantra Buddhis dewasa ini karena secara cepat dan ampuh menghancurkan ego dan ilusi dualisme yang menyebabkan kemelekatan. Kehadiran Bhagavatī Vajrayoginī sangat dibutuhkan bagi bangsa Indonesia, khususnya praktisi Buddhis di zaman kemerosotan yang diwarnai dengan polarisasi dan ego kelompok maupun pribadi yang makin menjadi-jadi. Semua itu berasal dari persepsi keliru terhadap diri dan dualisme yang dapat diatasi melalui praktik Bhagavatī Vajrayoginī.

Bhagavatī Vajrayoginī sendiri merupakan pasangan dari Śrī Heruka Cakrasaṃvara, Iṣṭadevatā Tantra Buddhis yang diyakinin pernah dipraktikkan di Nusantara, terbukti dari penemuan arca-arca Śrī Heruka Cakrasaṃvara. Oleh karena itu, Bhagavatī Vajrayoginī memiliki kedekatan karma yang begitu kuat dengan Nusantara. 

Penyambutan Pratima Bhagavati Vajrayogini

Penyambutan Pratimā Bhagavatī Vajrayoginī

Setelah ratusan tahun praktik Tantra Buddhis mengalami kemunduran di Nusantara, Biara Indonesia Tuṣita Vivaraṇācaraṇa Vijayāśraya didirikan untuk melestarikan kembali ajaran Sutra dan Tantra Buddhis di Nusantara. Kedatangan Pratimā Bhagavatī Vajrayoginī di biara ini merupakan suatu pertanda baik bagi kelestarian ajaran dan praktik Tantra autentik yang berlandaskan pada dasar filosofis yang terstruktur dan menyeluruh dari sistem Sutra di negeri ini.

Penyambutan Pratima Bhagavati Vajrayogini

Kirab Penyambutan Pratimā Bhagavatī Vajrayoginī

Anggota Sangha dan umat Buddha dari berbagai daerah melakukan mendak dengan mempersembahkan iring-iringan musik tradisional Bali dan Jawa di sepanjang jalan sebelum pratimā memasuki kawasan biara. Sesampainya di kawasan Biara, Pratimā Bhagavatī Vajrayoginī yang didudukkan di dalam mobil pun dipindahkan ke atas tandu yang sudah disiapkan untuk kemudian diangkat dan dibawa oleh Sangha KCI. Dengan ditudungi payung chatra, Pratimā Bhagavatī Vajrayoginī diiringkan dengan semarak oleh para praktisi Tantra Buddhis. Pratimā ini sendiri ditakhtakan di Kuṭāgāra (bangunan relung beratap yang menaungi arcakhas Candi Borobudur yang sudah disiapkan sebelumnya di Biara.

Kegiatan mendak selesai dilanjutkan dengan Pratiṣṭha (ritual konsekrasi) untuk Pratimā Bhagavatī Vajrayoginī yang dilakukan oleh Sangha KCI dan umat awam dengan dipimpin Y.M. Ācārya Bhikṣu Bhadra Ruci, yang juga merupakan kepala biara dari Biara Indonesia Tuṣita Vivaraṇācaraṇa Vijayāśraya. 

Ritual konsekrasi ini dilakukan untuk mengundang sosok Bhagavatī Vajrayoginī agar datang dan bersemayam dalam pratimā-Nya. Dalam keyakinan Buddhis, ritual konsekrasi pratimā ini akan menjadikan pratimā tersebut sebagai sosok Bhagavatī Vajrayoginī yang sesungguhnya.

Penyambutan Pratima Bhagavati Vajrayogini

Mahābhiṣeka Pratimā Bhagavatī Vajrayoginī

Dalam ritual konsekrasi ini, Sang Ācārya melakukan Mahābhiṣeka (pemandian agung) kepada Pratimā Bhagavatī Vajrayoginī dengan menggunakan air bersih, air susu, hingga abu suci dan substansi lain sebagai bentuk penghormatan dan persembahan kepada Bhagavatī Vajrayoginī yang telah diundang untuk bersemayam dalam pratimā.

Persembahan Delapan Tanda Keberuntungan (Aṣṭamaṅgala) kepada Bhagavatī Vajrayoginī

Persembahan Delapan Tanda Keberuntungan (Aṣṭamaṅgala) kepada Bhagavatī Vajrayoginī

Ritual konsekrasi pun dilanjutkan dengan menghaturkan persembahan Aṣṭamaṅgala (Delapan Tanda Keberuntungan) yang terdiri atas payung, sepasang ikan mas, cangkang keong, dan lain sebagainnya. Kedelapan tanda keberuntungan ini menyimbolkan berbagai hal baik yang diharapkan dapat berbuah kembali berlipat ganda kepada para pemberi.

Agnihotra Yajna kepada Bhagavati Vajrayogini

Agnihotra Yajñā kepada Bhagavatī Vajrayoginī

Setelah melakukan ritual konsekrasi, Ācārya pun memimpin peserta untuk melakukan ritual Śāntika Agnihotra Yajña (persembahan puja melalui media api untuk mendamaikan) yang bertujuan untuk mendamaikan atau menenangkan segala penghalang yang disebabkan oleh karma buruk. Dengan demikian, praktik Dharma pun bisa berkembang cepat tanpa halangan.

Agnihotra Yajna kepada Bhagavati Vajrayogin

Agnihotra Yajñā kepada Bhagavatī Vajrayogin

Setelah itu, dilakukan pula ritual Gaṇacakra (kenduri) di mana para praktisi yang hadir menjamu Bhagavatī Vajrayoginī dan para Buddha, Bodhisattva, serta Iṣṭadevatā lain yang hadir dengan aneka makanan dan minuman. Para praktisi pun memperoleh kembali makanan yang telah diberkahi seperti nasi Tibet dan aneka makanan.

Gaṇacakra (kenduri) kepada Bhagavati Vajrayogini

Gaṇacakra (kenduri) kepada Bhagavatī Vajrayoginī

Layaknya pesta penyambutan, begitulah gambaran ringkas bagaimana upacara pensakralan Pratimā Bhagavatī Vajrayoginī dilakukan. Mulai dari prosesi mendak, ritual konsekrasi, Agnihotra, dan Gaṇacakra; semuanya dilangsungkan dengan khidmat dan semarak suka cita penuh harapan akan berkah dari Sang Puan, Bhagavatī Vajrayoginī.

Kini, dengan hadirnya Bhagavatī Vajrayoginī di Biara Indonesia Tuṣita Vivaraṇācaraṇa Vijayāśraya, berkah Sang Puan pun mengalir deras ke Bumi Nusantara. Berbagai persembahan yang dihaturkan langsung pada pratimā yang sudah dikonsekrasi ini akan menjadi ladang penghimpunan kebajikan yang jauh lebih besar. Berkah yang didapat akan semakin besar. Semoga dengan kemurnian pikiran, ketulusan hati, dan keyakinan yang kuat, kita mampu melihat dan berjodoh dengan Bhagavatī Vajrayoginī.


Share: