Masyarakat Nusantara, khususnya Jawa dan Bali, familiar dengan tradisi ruwatan dan melukat. Tapi, sebenernya, apa sih yang dimaksud dengan ruwatan dan melukat?
Ruwatan berasal dari Bahasa Jawa Kuno (Kawi), yakni ‘ruwat’, yang artinya menghancurkan. Dalam konteks ini adalah hal-hal negatif. Selain kata pengruwatan, istilah lain yang digunakan adalah panglukatan yang artinya penyucian. Keduanya sering digunakan bergantian untuk merujuk pada ritual penyucian yang dilakukan masyarakat di Nusantara.

Sumber: Koleksi Pribadi
Sejarah ruwatan sendiri bisa ditelusuri sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Setidaknya, berbagai relief di berbagai candi, baik candi Hindu atau pun candi Buddha, memuat kisah-kisah terkait pengruwatan.
Garudeya merupakan kisah tentang perjuangan Garuda bernama Garudeya yang membebaskan ibunya, meruwat ibunya, dari perbudakan seratus saudara tirinya yang merupakan Bangsa Naga. Garudeya pun meminta air suci dari Dewa Wisnu untuk membebaskan ibunya dari perbudakan tersebut.

Sumber: museumsinghasari.site
Kunjarakarna menceritakan kisah seorang yaksa bernama Kunjarakarna yang pergi ke Buddha Vairocana untuk meminta diruwat agar di kelahiran berikutnya mampu terlahir sebagai seorang manusia berparas tampan. Selain itu, kisah ini juga menceritakan sahabat dari Kunjarakarna, Purnawijaya, yang juga turut diruwat sehingga ia yang seharusnya karena karma buruk yang besar akan lahir di neraka selama ratusan tahun pun hanya perlu terlahir di neraka selama 10 tahun dan kemudian terlahir kembali.

Sumber: Buku Naskah Lama Jawa Timur, Kunjara Karnna 2
Sri Tanjung adalah seorang perempuan cantik jelita keturunan bidadari. Ia menikah dengan seorang pria keturunan Pandawa bernama Sidapaksa. Penguasa setempat yang bernama Raja Sulakrama juga jatuh hati pada Sri Tanjung. Ia pun berusaha memisahkan Sri Tanjung dari Sidapaksa. Saat Sidapaksa tidak ada, Raja Sulakrama ingin memperkosa Sri Tanjung. Namun saat Sidapaksa datang, justru Sri Tanjunglah yang difitnah sebagai wanita penggoda. Sidapaksa pun percaya pada fitnah tersebut. Lalu Sri Tanjung bersumpah jika ia dibunuh lalu keluar air wangi, maka ia adalah perempuan yang tidak bersalah. Sidapaksa pun membunuh Sri Tanjung dan ternyata memang keluar air wangi. Ia pun kemudian menyesal. Dewi Durga yang melihat kesialan dari Sri Tanjung ini pun akhirnya menghidupkan kembali Sri Tanjung dan keduanya pun bersatu kembali.

Sumber: Wikipedia
Sudamala merupakan gelar dari Sadewa, putra bungsu Pandu yang setelah dirasuki oleh Batara Guru berhasil meruwat Batari Durga. Kisahnya bermula dari Dewi Uma berubah menjadi Batari Durga yang memiliki sifat keraksasaan. Ia pun diusir ke Setra Gandamayu dan hanya bisa kembali ke tempat para dewa jika sudah diruwat oleh Sadewa, putra bungsu Pandu. Batari Durga pun berusaha dengan berbagai cara agar Sadewa bisa meruwatnya. Namun, karena saat itu Sadewa masih merasa tidak mampu, Batari Durga pun mengancam nyawanya. Melihat hal ini, Batara Guru merasuki tubuh Sadewa dan meruwat Batari Durga. Sadewa pun mendapat gelar Sudamala, yang menghilangkan kemalangan atau keburukan.

Sumber: Wikipedia
Dalam kisah Nawaruci, dikisahkan tentang Bima yang mencari air amerta. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan dua sosok raksasa, Rumaka dan Rukmakala yang merupakan perwujudan Dewa Indra dan Dewa Bayu yang telah dikutuk. Setelah mengalahkan kedua raksasa ini, keduanya pun kembali ke wujud semula sebagai Dewa Indra dan Dewa Bayu. Lalu, keduanya memberi tahu Bima lokasi air amerta berada.
Kisa-kisah di atas menjadi dasar ajaran dan cikal-bakal munculnya tradisi pengruwatan dan penglukatan yang masih dipraktikkan hingga saat ini baik oleh masyarakat Jawa atau pun Bali. Inti dari kisah-kisah di atas adalah upaya para lakon utama untuk mengalahkan hal-hal buruk seperti kesialan dan ketidaktahuan, yang kemudian setelah hal buruk tersebut hilang, mereka pun mampu menuju kesucian atau keabadian.
Dalam tradisi Hindu-Buddha di Nusantara, ritual ruwatan pun berkembang menjadi beraneka macam cara dan tujuan. Setidaknya, terdapat tiga tujuan utama dari pengruwatan, yaitu untuk meruwat alam semesta atau penglukatan jagat, untuk meruwat simbol-simbol Istadewata atau penglukatan dewa, dan untuk meruwat orang atau penglukatan janma.
Jenis-jenis ruwatan ini masih bisa kita lihat misal dalam acara Suroan masyarakat Jawa, bersih desa dengan pertunjukan wayang, jamas pusaka, ruwatan sukerta, dan lain sebagainnya.
Dalam Buddhisme, praktik ruwatan dipandang sebagai usaha praktisi untuk menyucikan diri dari berbagai karma buruk yang menghalangi praktik mereka mencapai pencerahan dengan cepat. Segala kesialan, baik yang berasal dari luar seperti bencana alam, atau dari dalam diri sendiri seperti kelalaian yang menyebabkan kecelakaan, merupakan buah dari karma buruk yang tak hingga banyaknya di kehidupan masa lalu. Oleh karena itu, sebelum karma buruk tersebut berbuah lengkap, penting untuk disucikan agar meminimalisir atau menghilangkan buah karma tersebut. Jika karma buruk sudah berbuah, bahkan seorang Buddha pun tidak bisa melakukan apa pun. Banyak kisah menceritakan bagaimana para Arhat juga tetap menerima karma buruk yang terlanjur berbuah.
Salah satu kisah yang menceritakan tentang praktik yang mirip dengan ruwatan dalam tradisi Buddhis adalah kisah bagaimana penduduk Vesali yang terkena wabah penyakit memohon Sang Buddha untuk datang dan menolong mereka. Dengan para murid-Nya, Sang Buddha pun berkenan datang dan kemudian membabarkan Ratana Sutta. Sang Buddha pun memerintahkan Arya Ananda untuk melafalkan sutta ini sembari mengelilingi Vesali bersama para penduduk. Arya Ananda pun melakukan hal tersebut sembari memercikkan air suci dari patta (mangkok) Sang Buddha yang dibawanya. Hal yang dilakukan oleh Arya Ananda sejalan dengan praktik pengruwatan yang bertujuan untuk menghilangkan berbagai kesialan yang menimpa penduduk Vesali.
Penggunaan air sebagai media untuk menampung berkah sendiri sampai hari ini masih dipraktikkan dalam Buddhisme, baik di tradisi Theravada, Mahayana, atau pun Vajrayana. Sekali pun memang Sang Buddha pernah bersabda bahwa air tidak mampu menyucikan seseorang. Karena, jika demikian maka makhluk air seperti ikan pun pasti lebih suci daripada manusia. Akan tetapi, air dapat digunakan sebagai media untuk menyimpan energi berkah. Kesucian air terletak pada ia yang membuat air tersebut dan seberapa kuat keyakinan kita terhadap pertolongan para Buddha yang senantiasa beraktivitas membantu semua makhluk.
Dalam konteks pengruwatan Buddhis, khususnya tradisi Vajrayana, pembuat air suci tersebut adalah praktisi Tantra yang telah mendapatkan izin untuk membangkitkan diri sebagai sosok Istadewata Buddha tertentu. Dengan demikian, pada dasarnya, yang memberkahi air tersebut adalah Istadewata Buddha itu sendiri sehingga air yang diberkahi benar-benar menjadi suci dan mengandung energi berkah di dalamnya.
Dengan memahami latar belakang tradisi ruwatan ini, kita mampu menumbuhkan sikap yang benar dalam mengikuti tradisi ini. Dalam sudut pandang Tantrik, para acarya yang melakukan ritual telah membangkitkan diri mereka sebagai para Buddha. Sekali pun penampakan mereka masih sama seperti kita, namun dengan berkah dari para Buddha yang telah menganugerahi izin untuk praktik Tantra tersebut serta kekuatan pemahaman akan sunyata, para acarya tersebut harus dipandang selayaknya para Buddha itu sendiri.
Setelah melihat dengan benar bahwa para acarya tersebut adalah Buddha, maka keyakinan akan ritual dan air suci yang didoai tersebut akan otomatis tumbuh karena yang membuat dan memercikkannya adalah para Buddha itu sendiri.


Sumber: Koleksi Pribadi
Saat meminum air suci atau menerima percikan tersebut, kita pun harus memvisualisasikan bahwa berbagai kesalahan kita dibersihkan dan dimurnikan. Kita bisa membayangkan nektar dari para Buddha atau bahkan Buddha itu sendiri yang masuk dalam tubuh kita melalui air suci yang kita minum atau pori-pori kulit yang menerima percikan air suci tersebut. Para Buddha sendiri akan hadir di mana saja tubuh mereka berada, termasuk tubuh yang kita bangkitkan dari memvisualkan air suci tersebut. Maka, kita pun harus yakin bahwa Buddha sendirilah yang masuk dalam tubuh kita untuk mengisi diri kita dengan kebajikan yang tak terhingga sehingga mendatangkan keberuntungan dan meminimalisir kesialan yang diakibatkan oleh karma buruk kita.

Sumber: Koleksi Pribadi