Mengenal Bhagavati Vajrayogini, Istadevata Tantra dalam Wujud Perempuan yang Mampu Mengantarkan ke Pencerahan dengan Cepat

2025-08-13

Mengenal Bhagavati Vajrayogini, istadevata Tantra dalam Wujud Perempuan yang Mampu Mengantarkan ke Pencerahan dengan Cepat
Mengenal Bhagavati Vajrayogini, istadevata Tantra dalam Wujud Perempuan yang Mampu Mengantarkan ke Pencerahan dengan Cepat

Bhagavatī Vajrayoginī merupakan salah satu sosok terkemuka dalam ajaran Tantra Buddhis. Beliau dipercaya merupakan seorang ḍākinī, perwujudan kebijaksanaan, yang membantu para praktisi Dharma untuk menghancurkan keegoisan dan ilusi dualisme. Beliau mengubah cara pandang praktisi Dharma sehingga lebih cepat membantu para praktisi untuk mencapai pencerahan.

Praktik Vajrayoginī berasal dari teks Tantra Akar Śrī He­ruka, kelas Tantra tertinggi (Anuttarayoga Tantra) yang diajarkan Buddha Vajradhara. Tantra ini merupakan respons dari masifnya praktik pengorbanan makhluk yang dilakukan oleh pengikut Īśvara. Buddha Vajradhara pun memanifestasikan diri-Nya sebagai Śrī Heruka. Karena Īśvara muncul dengan pasangannya, maka Śrī Heruka juga muncul dengan pasangan, yakni Bhagavatī Vajrayoginī. Buddha pun akhirnya menaklukkan Īśvara, menghentikan praktik pengorbanan makhluk, dan mengubah pengikut Īśvara menjadi pengikut Śrī Heruka.

Di Tantra ini juga, dikisahkan bagaimana para dewa, gandharva, yakṣa, rākṣasa, nāga, dan asura mengundang Īśvara untuk berdiam di tempat-tempat mereka yang totalnya ada 24 tempat. Setelah Śrī Heruka menaklukkan Īśvara, ke-24 situs ini ditransformasikan menjadi 24 situs suci dari Śrī Heruka dan Bhagavatī Vajrayoginī. Salah satu dari situs tersebut adalah Suvarṇadvīpa, yang ada di Nusantara. Berkat adanya 24 situs ini, umat manusia memiliki koneksi yang kuat dengan Śrī Heruka dan Bhagavatī Vajrayoginī, bahkan di zaman kemerosotan.

vajrayogini tantrayana perempuan dakini

Sumber foto: Buddhaweekly.com 

Wujud dari Bhagavatī Vajrayoginī sendiri kaya akan simbolisme. Beberapa makna yang terkandung dalam perwujudan Bhagavatī Vajrayoginī antara lain:

Nama Vajrayoginī

Nama Bhagavatī  Vajrayoginī, berasal dari kata vajra yang berarti “berlian, atau tak tergoyahkan” dan yoginī yang merujuk pada nama gelar praktisi perempuan yang merealisasikan kebijaksanaan tertinggi. Nama ini menjelaskan secara singkat sosok Vajrayoginī sebagai perwujudan kebijaksanaan transendental yang bersifat feminin dalam tradisi Tantra Buddhis.

Tubuh Berwarna Merah

Tubuh Bhagavatī Vajrayoginī berwarna merah menyala seperti warna delima atau warna matahari yang terbenam. Warna ini melambangkan melambangkan panas amarah dan gairah yang membakar semua hambatan atau penghalang menuju pencerahan. Selain itu, warna ini juga melambangkan aktivitas Bhagavatī Vajrayoginī untuk menaklukkan makhluk dan membawa mereka menuju Dharma.

Ketelanjangan

Bhagavatī Vajrayoginī digambarkan sebagai perempuan muda yang telanjang. Ini bukanlah bentuk keerotisan, namun simbolisasi dari pikiran murni yang bebas dari pakaian konseptual. Ketelanjangan melambangkan ketiadaan ego, ketidakterikatan pada label, dan kebebasan dari samsara.

Kepala Babi di atas Mahkota

Secara umum, babi dalam ikonografi Buddhisme melambangkan kebodohan. Babi hutan yang ada di atas kepala Bhagavatī Vajrayoginī melambangkan kemampuan Beliau untuk mengatasi kebodohan. Selain itu, ini juga melambangkan bahwa kebodohan bukanlah hal yang harus dihindari, namun harus dianalisis dan dijadikan bahan praktik.

Mahkota Lima Tengkorak

Mahkota Lima Tengkorak yang ada di kepala Bhagavatī Vajrayoginī melambangkan Pañca-Tathāgata, Lima Buddha yang menjadi lima kepala keluarga Buddha. Masing-masing dari keluarga Buddha memiliki aktivitas pencerahan yang berbeda.

Tiga Mata

Bhagavatī Vajrayoginī memiliki tiga mata. Mata ketiga yang ada di dahi secara umum melambangkan mata kebijaksanaan yang mampu menembus segala kebodohan. Sedangkan ketiga mata Bhagavatī Vajrayoginī secara keseluruhan melambangkan kebijaksanaan dan pengetahuan Beliau di tiga masa: masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Wajah Tunggal

Banyak sosok dalam Tantra kelas tertinggi memiliki banyak wajah.Namun, Bhagavatī Vajrayoginī sering digambarkan memiliki satu wajah. Ini melambangkan bahwa semua fenomena memiliki satu realitas, kesunyataan.

Kalung Tengkorak

Bhagavatī Vajrayoginī digambarkan mengenakan 51 kepala tengkorak. Sekali pun terlihat mengerikan, 51 kepala tengkorak ini mewakili 51 faktor mental yang harus ditransformasikan oleh praktisi Dharma.

Pisau Lengkung

Di tangan kanan Bhagavatī Vajrayoginī, Beliau digambarkan memegang pisau lengkung (kartrī), senjata kebijaksanaan feminin yang memotong berbagai kekotoran batin seperti kemelekatan, kebencian, iri hati, kesombongan, dan kebodohan. Bentuknya yang melengkung dan ujung mengait melambangkan pekerjaan yang halus dan dapat memotong hingga ke akar, bukan hanya memenggal secara kasar dan menyisakan akarnya untuk tumbuh kembali.

Tongkat Khaṭvāṅga

Khaṭvāṅga merujuk pada tongkat yang disandarkan pada bahu kiri Bhagavatī Vajrayoginī. Tongkat ini memiliki banyak ornamen dan simbolisme. Secara umum, tongkat ini melambangkan persatuan dari Bhagavatī Vajrayoginī dengan Śrī He­ruka, atau dengan kata lain penyatuan prajñā (kebijaksanaan) dengan upāya (keterampilan welas asih). Tiga kepala yang menancap di ujungnya melambangkan tiga masa, tiga racun, dan Tiga Tubuh (Dharmakāya, Nirmāṇakāya, Sambhogakāya).

Mangkuk Kapāla

Bhagavatī Vajrayoginī memegang mangkuk yang terbuat dari batok kepala di tangan kiri. Ini melambangkan ketidakkekalan dan kematian. Meski demikian, mangkuk ini berisi nektar yang melambangkan kebahagiaan. Sekali pun nektar ini terbuat atas berbagai hal kotor, namun mampu ditransformasikan menjadi nektar kebahagiaan agung.

Posisi Menari atau Berdiri di atas Bhairava dan Kālarātrī 

Bhagavatī Vajrayoginī digambarkan dalam posisi menari atau berdiri. Dalam posisi menari, Beliau menginjak mayat yang melambangkan supremasi dari kesadaran atas tubuh fisik. Mayat di sini melambangkan ego atau pola lama yang harus dikalahkan.

Sedangkan dalam posisi berdiri, Bhagavatī Vajrayoginī digambarkan menginjak kepala Bhairava (bentuk murka dari Īśvara) dan dada pasangannya, Kālarātrī. Keduanya melambangkan ketidaktahuan dan kemelekatan. Dengan menginjak keduanya, memposisikan Bhagavatī Vajrayoginī berada di jalan tengah yang bebas dari dua bentuk ekstrim.

Perhiasan Tulang 

Jika diperhatikan lebih seksama, ikonografi Bhagavatī Vajrayoginī juga memiliki 6 set perhiasan yang terbuat dari tulang. Ke-6 perhiasan ini melambangkan enam pāramitā: dāna (kemurahan), śīla (moral), kṣānti (kesabaran), vīrya (usaha), dhyāna (meditasi), prajñā (kebijaksanaan). Ini juga melambangkan bahwa praktisi Tantra yang mempraktikkan Vajrayoginī harus menghiasi dirinya dengan praktik enam pāramitā.

Lingkaran praba api

Lingkaran praba api yang mengelilingi tubuh Bhagavatī Vajrayoginī melambangkan kebijaksanaan yang menyala-nyala, kekuatan pemurnian yang menghabisi pandangan keliru dan klesha. Api juga berfungsi sebagai batas mandala: protektif dan aktif, menandai bahwa praktik tantrik bekerja dalam ruang suci yang membakar kekotoran batin.

Dengan memahami berbagai macam simbolisasi yang terdapat dalam penggambaran  Bhagavatī Vajrayoginī, maka setiap praktisi Tantra yang memvisualisasikan  Bhagavatī Vajrayoginī pada dasarnya juga mengingat berbagai macam ajaran Buddha dan mengubahnya dalam berbagai macam bentuk pernak-pernik atribut yang menghiasi  Bhagavatī Vajrayoginī. 

Selain itu, dalam Tantra Śrī Heruka, dijelaskan bahwa manfaat dari praktik Vajrayoginī tidaklah terhingga. 

Beberapa manfaat yang bisa dirasakan, seperti:

1. Mendapatkan berkah dan siddhi dengan cepat
Mempraktikkan Vajrayoginī dapat memberi kita berbagai macam berkah dan siddhi yang dapat membantu kita mencapai tujuan sementara dan tujuan tertinggi.

2. Mengandung sintesis dari semua praktik Tantra
Praktik Vajrayoginī mengandung semua esensi praktik dari Tantra lain seperti praktik Heruka, Yamāntaka, dan Guhyasamāja. Hal ini membuat praktik Vajrayoginī begitu berharga dalam membantu kita memahami praktik Tantra secara umum.

3. Mudah untuk dipraktikkan
Instruksi yang terdapat di praktik Vajrayoginī sangatlah jelas dan mudah untuk diikuti. Praktik ini juga memiliki maṇḍala yang sederhana sehingga lebih mudah divisualisasikan ketimbang praktik Tantra kelas tertinggi lainnya.

4. Mempercepat pencapaian
Banyak guru mengatakan bahwa praktik Vajrayoginī dapat membantu seseorang mencapai Tanah Murni Khecara dengan cepat. Bahkan bagi mereka yang tidak punya banyak kebajikan, mereka dapat mencapai Tanah Murni Khecara saat berada di alam bardo, alam perantara setelah kematian dan sebelum kelahiran kembali. Bahkan, sekalipun seseorang tidak mencapai Tanah Murni Khecara dan jatuh di neraka, Vajrayoginī akan membantu orang tersebut keluar dari neraka dengan memberkahi pikiran praktisi sehingga buah karma baik berbuah dan melemparkannya keluar dari neraka ke Tanah Murni Khecara.

5. Mendapatkan praktik  maṇḍala tubuh
Tidak banyak praktik Tantra yang mengajarkan  maṇḍala tubuh. Praktik Vajrayoginī merupakan sedikit dari praktik Tantra yang mengajarkan hal ini. Dalam praktik ini, tubuh kita beserta bagian-bagiannya ditransformasikan menjadi iṣṭadevatā.

6. Mendapatkan praktik Yoga yang Tak Terpahami
Praktik Vajrayoginī juga dapat mengantarkan seorang praktisi untuk mencapai Tanah Murni Kechara tanpa meninggalkan tubuh fisiknya saat ini. Hal ini memungkinkan praktisi untuk mencapai realisasi dalam kehidupan ini juga.

7. Melakukan Tahap Pembangkitan dan Tahap Perampungan bersamaan
Praktik Vajrayoginī juga merupakan sedikit dari praktik Tantra yang memungkinkan kita untuk melakukan tahap perampungan (niṣpannakrama) saat kita di tahap pembangkitan (utpattikrama). Sedangkan praktik Tantra yang lain kebanyakan mensyaratkan kita untuk melakukan tahap pembangkitan terlebih dahulu, yakni dengan melakukan berbagai macam visualisasi untuk membangkitkan pandangan murni, baru kemudian merealisasikannya dalam tahap perampungan. Akan tetapi, praktik Vajrayoginī sedari awal bahkan bangun tidur, kita pun sudah di tahap perampungan dan tahap pembangkitan sekaligus.

8. Membantu kita dengan kemelekatan yang kuat
Pada dasarnya, kemelekatan adalah sebuah kleśa yang membuat kita tidak bisa mencapai pencerahan. Namun, dalam praktik Vajrayoginī, kemelekatan ditransformasikan menjadi suatu energi untuk memurnikan para praktisi, yang kemudian dapat membantu praktisi merealisasikan pencerahan.

9. Membantu kita di masa kemerosotan Dharma
Berbeda dengan kebanyakan praktik yang akan semakin luntur dan bahkan hilang di zaman kemerosotan, praktik Vajrayoginī justru akan semakin menguat dan berkahnya semakin besar di zaman yang semakin merosot. Hal ini karena maṇḍala dari Vajrayoginī masih terus ada di dunia melalui 24 situs suci yang dijelaskan di atas.

10. Memiliki mantra yang sangat ampuh
Dalam Teks Akar Tantra Śrī Heruka, Buddha Vajradhara juga mengajarkan bahwa mantra Vajrayoginī dapat membantu praktisi mencapai realisasi bahkan jika dilafalkan dengan konsentrasi yang lemah. Akan tetapi, kita butuh keyakinan (śraddhā) yang kuat pada Vajrayoginī dan mantranya.

Meski memiliki banyak manfaat, praktisi Dharma harus terlebih dahulu memperoleh izin untuk mempraktikkan praktik Vajrayoginī dengan mengikuti inisiasi Tantra. Untuk memperoleh izinnya pun, praktisi Dharma terlebih dahulu harus mempelajari ajaran Buddha yang umum, kemudian membangkitkan bodhicitta, dan terlebih dahulu harus mempraktikkan welas asih yang menjadi penekanan di kelas Tantra Kriya. Hal ini karena welas asih adalah dasar dari seluruh praktik Tantra. 

Dewasa ini, silsilah praktik Vajrayoginī sendiri dapat ditelusuri berasal dari 3 silsilah utama: silsilah Narokhacö, Maitrikhacö, dan Indrakhacö. Ketiganya berasal dari Bhagavatī Vajrayoginī. Silsilah Narokhacö ditransmisikan oleh Bhagavatī Vajrayoginī kepada Nāropa. Silsilah Maitrikhacö berasal dari Vajrayoginī kepada Maitrīpa. Dan silsilah Indrakhacö berasal dari Vajrayoginī kepada Indrabhūti.

Di Indonesia sendiri, silsilah Narokhacö merupakan silsilah praktik Vajrayoginī yang ramai dipraktikkan oleh Sangha dan umat awam di Biara Indonesia Tusita Vivaraṇācaraṇa Vijayāśraya.


Share: