Chokor Duchen Spesial 2025 : INILAH ALASAN BUDDHA AKHIRNYA MENGAJARKAN DHARMA?

2025-07-17

INILAH ALASAN BUDDHA AKHIRNYA MENGAJARKAN DHARMA?
INILAH ALASAN BUDDHA AKHIRNYA MENGAJARKAN DHARMA?

Dalam Buddhisme, pemutaran Roda Dharma (Dharmachakra) merujuk pada awal dimulainya Sang Buddha mengajarkan Dharma pada para makhluk. Roda Dharma merupakan sebuah simbol yang mewakili ajaran Buddha. 

Sebelum memutarkan Roda Dharma, Sang Buddha sempat berdiam diri untuk waktu yang lama. Beliau merenungkan bahwa Dharma yang ditemukan ini sangat dalam, sulit dipahami, halus, dan melampaui konsep-konsep duniawi. Hal ini akan menyebabkan para makhluk susah memahaminya dan akan putus asa.

Dari alam para Dewa, Dewa Indra dan Dewa Brahmā pun melihat hal ini. Takut bahwa dunia akan kehilangan kesempatan besar jika Dharma tidak diajarkan, maka Dewa Indra dan Dewa Brahmā pun turun secara langsung untuk memohon Sang Buddha membabarkan Dharma. “Yang Mulia, sudilah Sang Bhagavān mengajarkan Dharma, sudilah Yang Sempurna mengajarkan Dharma. Ada makhluk-makhluk dengan sedikit debu di mata mereka yang akan sia-sia karena tidak mendengarkan Dhamma. Akan ada di antara mereka yang akan memahami Dharma.”, Ujar Dewa Brahma

Merenungkan keberadaan makhluk yang memiliki sedikit debu di mata mereka, dengan welas asih yang besar Sang Buddha pun memutuskan untuk mengajarkan Dharma pertama kali di Taman Rusa Isipatana kepada 5 orang pertapa. Semua ini berkat permohonan dari Dewa Indra dan Dewa Brahma yang dengan rendah hati meminta agar Dharma diajarkan. Mereka tidak ingin kehilangan kesempatan besar ini.

Merenungkan betapa besar welas asih dari Sang Buddha, serta bagaimana rendah hatinya Dewa Indra dan Dewa Brahma yang memohon pengajaran Dharma; sebagai murid kita juga harus senantiasa memiliki kerendahan hati untuk memohon pengajaran dari Guru kita yang penuh welas asih ini.

Pemutaran Roda Dharma merupakan peristiwa yang sangat penting dan menjadi titik awal penyebaran ajaran Buddha. Peristiwa ini diperingati sebagai Chokor Duchen. Mari rayakan Chokor Duchen Special 2025 bersama Biara Indonesia Tuṣita Vivaraṇācaraṇa Vijayāśraya.



Share: