Gelukpa: Monastik Tidak Hanya Ritual

2019-05-09

gelukpa monastik tidak hanya ritual
gelukpa monastik tidak hanya ritual

Tatanan monastik yang disebut Gelukpa didirikan oleh cendekiawan besar dan reformator Yang Agung Tsongkhapa Losang Drakpa (1357-1419 M). Seorang cendekiawan luar biasa yang belajar dengan banyak guru di sekitar tibet, terutama dengan Yang Mulia Rendawa dari tradisi Sakya, Beliau mulai menulis risalah filosofis pada usia tiga puluh dua tahun. Pada akhir usia tigapuluhan, beliau mendapatkan penglihatan seorang Bodhisattva atau personifikasi dari Buddha Kebijaksanaan, Manjusri, yang dikatakan telah memberikan pengajaran Dharma secara langsung. Penglihatan penting lainnya terjadi selama menyusun karyanya yang terbesar, Risalah Agung Tahapan Sang Jalan. Kali ini, beliau diyakini telah belajar langsung dari penampakan pandit (cendekiawan) India, Yang Agung Atisa, yang menghidupkan kembali agama Buddha Tibet pada abad ke-11 dan meninggal di Tibet. Yang Agung Tsongkhapa menarik banyak pengikut dengan perpaduan cemerlangnya mengenai filsafat India dan kitab komentar Tibet. Secara khusus, penjelasannya tentang Ajaran Madyamika secara terampil, berlapis-lapis, dan persuasif yang dianggap pembelajaran tertinggi oleh orang tibet.

Yang Agung Tsongkhapa tidak pernah mengumumkan pembentukan tatanan monastik baru, tetapi mulai terbentuk setelah pendirian Biara Ganden dekat lhasa pada tahun 1410. Tradisi lain menyebut para pengikut Yang Agung Tsongkhapa sebagai Gandenpa. Setelah tulisan-tulisan Tsongkhapa dikritik oleh para penulis tradisi Sakya, para Gandenpa memisahkan diri mereka dari Sakya

dengan menyebut diri mereka sendiri sebagai Gelukpa (Yang berbudi luhur). Mereka juga disebut sebagai pengikut tradisi Kadampa Baru yang mengacu pada tatanan Kadampa yang didirikan oleh murid Yang Agung Atisa, Yang Agung Dromtonpa (1005-1064 M). Seperti Yang Agung Atisa, Yang Agung Dromtonpa, dan terutama cendekiawan besar dan penerjemah Ngok Loden Sherab (1059-1109 M), Yang Agung Tsongkhapa menekankan bahwa monastisisme seharusnya tidak hanya tentang ritual tetapi harus melibatkan studi yang keras tentang filsafat Buddha.

Dikarenakan memiliki silsilah dan biara asal yang sama, pembelajaran mengenai filsafat Buddha inilah nilai yang dipegang oleh Sangha Kadam Choeling Indonesia. Sangha KCI menjalani kelas-kelas rutin pembelajaran Filsafat setiap hari untuk mempelajari 5 teks besar, baik di India maupun di Indonesia.

Gelukpa: Monastik Tidak Hanya Ritual

Setelah menjalani beberapa waktu pembelajaran di Drepung Gomang Monastery di India, kini Sangha KCI bisa melanjutkan di Indonesia atas kebaikan hati dari Ven. Lobsang Palbar yang berkenan tinggal di Indonesia selama proses pembelajaran berlangsung.

Sangha Kadam Choeling Indonesia telah memulai kelas baru pada tanggal 26 Maret 2019 serta melanjutkan pembelajaran filsafat Buddhis pada 21 Februari 2019


Share: